03/07/2012

Senin, 02 Juli 2012

Struktur Kepribadian Id, Ego dan Superego Sigmund Freud






Menurut teori psikoanalitik Sigmund Freud, kepribadian terdiri dari tiga elemen. Ketiga unsur kepribadian itu dikenal sebagai id, ego dan superego yang bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks.

1.  Id

Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis, sehingga komponen utama kepribadian.
Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan, keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas langsung, hasilnya adalah kecemasan negara atau ketegangan.

Sebagai contoh, peningkatan rasa lapar atau haus harus menghasilkan upaya segera untuk makan atau minum. id ini sangat penting awal dalam hidup, karena itu memastikan bahwa kebutuhan bayi terpenuhi. Jika bayi lapar atau tidak nyaman, ia akan menangis sampai tuntutan id terpenuhi.
Namun, segera memuaskan kebutuhan ini tidak selalu realistis atau bahkan mungkin. Jika kita diperintah seluruhnya oleh prinsip kesenangan, kita mungkin menemukan diri kita meraih hal-hal yang kita inginkan dari tangan orang lain untuk memuaskan keinginan kita sendiri. Perilaku semacam ini akan baik mengganggu dan sosial tidak dapat diterima. Menurut Freud, id mencoba untuk menyelesaikan ketegangan yang diciptakan oleh prinsip kesenangan melalui proses utama, yang melibatkan pembentukan citra mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan.

2.   Ego

Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Fungsi ego baik di pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar.
Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan sosial yang sesuai. Prinsip realitas beratnya biaya dan manfaat dari suatu tindakan sebelum memutuskan untuk bertindak atas atau meninggalkan impuls. Dalam banyak kasus, impuls id itu dapat dipenuhi melalui proses menunda kepuasan – ego pada akhirnya akan memungkinkan perilaku, tetapi hanya dalam waktu yang tepat dan tempat.
Ego juga pelepasan ketegangan yang diciptakan oleh impuls yang tidak terpenuhi melalui proses sekunder, di mana ego mencoba untuk menemukan objek di dunia nyata yang cocok dengan gambaran mental yang diciptakan oleh proses primer id’s.

3.   Superego

Komponen terakhir untuk mengembangkan kepribadian adalah superego. superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat – kami rasa benar dan salah. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian.

Ada dua bagian superego:

Yang ideal ego mencakup aturan dan standar untuk perilaku yang baik. Perilaku ini termasuk orang yang disetujui oleh figur otoritas orang tua dan lainnya. Mematuhi aturan-aturan ini menyebabkan perasaan kebanggaan, nilai dan prestasi.
Hati nurani mencakup informasi tentang hal-hal yang dianggap buruk oleh orang tua dan masyarakat. Perilaku ini sering dilarang dan menyebabkan buruk, konsekuensi atau hukuman perasaan bersalah dan penyesalan. Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia bekerja untuk menekan semua yang tidak dapat diterima mendesak dari id dan perjuangan untuk membuat tindakan ego atas standar idealis lebih karena pada prinsip-prinsip realistis. Superego hadir dalam sadar, prasadar dan tidak sadar.

Interaksi dari Id, Ego dan superego

Dengan kekuatan bersaing begitu banyak, mudah untuk melihat bagaimana konflik mungkin timbul antara ego, id dan superego. Freud menggunakan kekuatan ego istilah untuk merujuk kepada kemampuan ego berfungsi meskipun kekuatan-kekuatan duel. Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat secara efektif mengelola tekanan ini, sedangkan mereka dengan kekuatan ego terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menjadi terlalu keras hati atau terlalu mengganggu.
Menurut Freud, kunci kepribadian yang sehat adalah keseimbangan antara id, ego, dan superego.

Metode Penelitian Kualitatif

Menurut Sukmadinata (2005) dasar penelitian kualitatif adalah konstruktivisme yang berasumsi bahwa kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif dan suatu pertukaran pengalaman sosial yang diinterpretasikan oleh setiap individu. Peneliti kualitatif percaya bahwa kebenaran adalah dinamis dan dapat ditemukan hanya melalui penelaahan terhadap orang-orang melalui interaksinya dengan situasi sosial mereka (Danim, 2002).

Penelitian kualitatif mengkaji perspektif partisipan dengan strategi-strategi yang bersifat interaktif dan fleksibel. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan. Dengan demikian arti atau pengertian penelitian kualitatif tersebut adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah dimana peneliti merupakan instrumen kunci (Sugiyono, 2005).Metode Penelitian Kualitatif

Ada  lima ciri pokok karakteristik metode penelitian kualitatif yaitu:

1.      Menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data
Penelitian kualitatif menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suatu situasi sosial merupakan kajian utama penelitian kualitatif. Peneliti pergi ke lokasi tersebut, memahami dan mempelajari situasi. Studi dilakukan pada waktu interaksi berlangsung di tempat kejadian. Peneliti mengamati, mencatat, bertanya, menggali sumber yang erat hubungannya dengan peristiwa yang terjadi saat itu. Hasil-hasil yang diperoleh pada saat itu segera disusun saat itu pula. Apa yang diamati pada dasarnya tidak lepas dari konteks lingkungan di mana tingkah laku berlangsung.
2.      Memiliki sifat deskriptif analitik
Penelitian kualitatif sifatnya deskriptif analitik. Data yang diperoleh seperti hasil pengamatan, hasil wawancara, hasil pemotretan, analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan angka-angka. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memperkaya informasi, mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar data aslinya (tidak ditransformasi dalam bentuk angka). Hasil analisis data berupa pemaparan mengenai situasi yang diteliti yang disajikan dalam bentuk uraian naratif. Hakikat pemaparan data pada umumnya menjawab pertanyaan-pertanyaan mengapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi. Untuk itu peneliti dituntut memahami dan menguasai bidang ilmu yang ditelitinya sehingga dapat memberikan justifikasi mengenai konsep dan makna yang terkandung dalam data.
3.      Tekanan pada proses bukan hasil
Tekanan penelitian kualitatif ada pada proses bukan pada hasil. Data dan informasi yang diperlukan berkenaan dengan pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana untuk mengungkap proses bukan hasil suatu kegiatan. Apa yang dilakukan, mengapa dilakukan dan bagaimana cara melakukannya memerlukan pemaparan suatu proses mengenai fenomena tidak dapar dilakukan dengan ukuran frekuensinya saja. Pertanyaan di atas menuntut gambaran nyata tentang kegiatan, prosedur, alasan-alasan, dan interaksi yang terjadi dalam konteks lingkungan di mana dan pada saat mana proses itu berlangsung. Proses alamiah dibiarkan terjadi tanpa intervensi peneliti, sebab proses yang terkontrol tidak akan menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Peneliti tidak perlu mentaransformasi data menjadi angka untuk mengindari hilangnya informasi yang telah diperoleh. Makna suatu proses dimunculkan konsep-konsepnya untuk membuat prinsip bahkan teori sebagai suatu temuan atau hasil penelitian tersebut.
4.      Bersifat induktif
Penelitian kualitatif sifatnya induktif. Penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi dimulai dari lapangan yakni fakta empiris. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari suatu proses atau penemuan yang tenjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan dan melaporkan serta menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut. Kesimpulan atau generalisasi kepada lebih luas tidak dilakukan, sebab proses yang sama dalam konteks lingkungan tertentu, tidak mungkin sama dalam konteks lingkungan yang lain baik waktu maupun tempat. Temuan penelitian dalam bentuk konsep, prinsip, hukum, teori dibangun dan dikembangkan dari lapangan bukan dari teori yang telah ada. Prosesnya induktif yaitu dari data yang terpisah namun saling berkaitan.
5.       Mengutamakan makna
Penelitian kualitatif mengutamakan makna. Makna yang diungkap berkisar pada persepsi orang mengenai suatu peristiwa. Misalnya penelitian tentang peran kepala sekolah dalam pembinaan guru, peneliti memusatkan perhatian pada pendapat kepala sekolah tentang guru yang dibinanya. Peneliti mencari informasi dari kepala sekolah dan pandangannya tentang keberhasilan dan kegagalan membina guru. Apa yang dialami dalam membina guru, mengapa guru gagal dibina, dan bagaimana hal itu terjadi. Sebagai bahan pembanding peneliti mencari informasi dari guru agar dapat diperoleh titik-titik temu dan pandangan mengenai mutu pembinaan yang dilakukan kepala sekolah. Ketepatan informasi dari partisipan (kepala sekolah dan guru) diungkap oleh peneliti agar dapat menginterpretasikan hasil penelitian secara sahih dan tepat.
Berdasarkan ciri di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif tidak dimulai dari teori yang dipersiapkan sebelumnya, tapi dimulai dari lapangan berdasarkan lingkungan alami. Data dan informasi lapangan ditarik maknanya dan konsepnya, melalui pemaparan deskriptif analitik, tanpa harus menggunakan angka, sebab lebih mengutamakan proses terjadinya suatu peristiwa dalam situasi yang alami. Generalisasi tak perlu dilakukan sebab deskripsi dan interpretasi terjadi dalam konteks dan situasi tertentu. Realitas yang kompleks dan selalu berubah menuntut peneliti cukup lama berada di lapangan.
Sejalan dengan pendapat di atas, Bogdan dan Biklen (1992) menjelaskan bahwa bahwa ciri-ciri metode penelitian kualitatif ada lima, yaitu:
  • Penelitian kualitatif mempunyai setting yang alami sebagai sumber data langsung, dan peneliti sebagai instrumen kunci.
  • Penelitian kualitatif adalah penelitian yang deskriptif. Data yang dikumpulkan lebih banyak kata-kata atau gambar-gambar daripada angka
  • Penelitian kualitatif lebih memperhatikan proses daripada produk. Hal ini disebabkan oleh cara peneliti mengumpulkan dan memaknai data, setting atau hubungan antar bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses.
  • Peneliti kualitatif mencoba menganalisis data secara induktif: Peneliti tidak mencari data untuk membuktikan hipotesis yang.mereka susun sebelum mulai penelitian, namun untuk menyusun abstraksi.
  • Penelitian kualitatif menitikberatkan pada makna bukan sekadar perilaku yang tampak.
Atas dasar penggunaanya, dapat dikemukakan bahwa tujuan penelitian kualitatif dalam bidang pendidikan yaitu untuk:
  1. Mendeskripsikan suatu proses kegiatan pendidikan berdasarkan apa yang terjadi di lapangan sebagai bahan kajian lebih lanjut untuk menemukenali kekurangan dan kelemahan pendidikan sehingga dapat ditentukan upaya penyempurnaannya.
  2. Menganalisis dan menafsirkan suatu fakta, gejala dan peristiwa pendidikan yang terjadi di lapangan sebagaimana adanya dalam konteks ruang dan waktu serta situasi lingkungan pendidikan secara alami.
  3. Menyusun hipotesis berkenaan dengan konsep dan prinsip pendidikan berdasarkan data dan informasi yang terjadi di lapangan (induktif) untuk kepentingan pengujian lebih lanjut melalui pendekatan kuantitatif.
Bidang kajian penelitian kualitatif dalam pendidikan antara lain berkaitan dengan proses pengajaran, bimbingan, pengelolaan/manajemen kelas, kepemimpinan dan pengawasan pendidikan, penilaian pendidikan, hubungan sekolah dan masyarakat, upaya pengembangan tugas profesi guru, dan lain-lain. Selain penelitian kualitatif yang digunakan dalam bidang pendidikan adalah penelitian tindakan kelas.

Contoh RPP Bimbingan Konseling


RENCANA PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

A. Identitas
  1. Sekolah                                   : MA Bahrul ‘Ulum Perak Jombang
  2. Kelas / Semester                    : XI / I
  3. Bidang Bimbingan                   : Bimbingan Pribadi
  4. Strategi layanan                      : Konseling Individu
  5. Topik / Baahasan                    : Rasa Percaya Diri
  6. Waktu Pelaksanaan                : 30 Menit
  7. Aspek Perkembangan            : Pemahaman dan Pengembangan Individu
  8. Tugas Perkembangan            : Memiliki perasaan positif tentang percaya diri                  terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri klien
  9. Standar Kompetensi               : Mampu memahami dan mengembangkan rasa percaya diri dengan benar dalam kehidupan sehari hari
  10. Indikator                                  : Mampu mendiskripsikan masalah yang sedang dihadapi dan mampu membuat langkah-langkah pemecahan masalah yang dihadapi
  11. Nilai karakter yang dikembangkan     : Komunikatif, kejujuran, bertanggung jawab

B. Tujuan Kegiatan
Konseli mampu memahami dan mengembangan rasa percaya diri terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada dirinya sehingga konseli dapat menerima keadaan diri, mengarahkan diri, dan memperoleh perasaan percaya diri dengan benar.

C. Materi Kegiatan
Mengembangkan rasa percaya diri

D. Uraian Kegiatan

TAHAP
URAIAN KEGIATAN
NILAI KARAKTER
Pembukaan
  1. Konselor membangun hubungan yang baik dengan konseli sehingga ada kepercayaan dari konseli dan mau terlibat dalam proses konseling
  2. Menjelaskan kepada konseli kunci kebarhasilan konseling adalah dengan terpenuhinya asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan, kegiatan
  3. Konselor berusaha memprediksi masalah dan merancang teknik yang akan dilakukan
  4. Konselor melakukan kontrak kepada konseli berkaitan dengan waktu konseling, berbagi tugas serta saling bertanggung jawab
Komunikatif
Inti
  1. Konselor menjelajahi permasalahan konseli
  2. Konselor memberikan kesempatan kepada konseli untuk menceritakan tentang keadaan yang sedang dialaminya, termasuk perubahan fisik dan psikis yang dialaminya yang menurutnya mengganggu perasaannya
  3. Konselor bersama konseli melakukan penilaian kembali terhadap permasalahan yang dihadapi konseli
  4. Konselor menunjukkan sikap tidak percaya diri dan sikap percaya diri, manfaatnya dan cara penerapannya dalam kehidupan sehari hari
  5. Konselor membantu konseli untuk :
a.    Memahami dan mengembangkan rasa percaya diri disekolah dan dirumah
b.    Memotivasi konseli agar bersedia menerima perubahan diri baik fisik maupun psikisnya saat ini
c.    Memberikan kepercayaan kepada konseli bahwa ia mampu menjadi pribadi yang lebih baik dengan perubahan yang terjadi dalam dirinya
d.    Memotivasi konseli untuk selalu bersikap percaya diri dalam setiap perilaku kehidupan
Jujur
Penutup
  1. Konselor bersama konseli berdiskusi bersama tentang penerapan sikap percaya diri
  2. Konselor bersama konseli membuat kesimpulan mengenai proses hasil konseling
  3. Menyusun tindakan yang harus dan akan dilakukan oleh konseli berdasarkan kesepakatan yang telah dibangun
  4. Memberikan arahan kepada konseli agar ia dapat menerima apa yang terjadi dalam dirinya dengan ikhlas dan bijak
  5. Mengevaluasi jalannya proses konseling

Bertanggung jawab

E. Metode / Model : Gestalt
F. Media / Alat :
G. Evaluasi :
a)    Evaluasi hasil / produk : penilaian segera, penilaian jangka pendek, dan penilaian jangka panjang
b)    Evaluasi Proses : Konseli dapat memahami perubahan yang terjadi dalam dirinya baik fisik maupun psikisnya sehingga ia tetap mampu mengembangkan dirinya dengan sikap percaya diri.

H. Tindak Lanjut :
a)    Pemantauan dan melaksanakan konseling lanjutan apabila dibutuhkan
b)    Membangun kerjasama dengan orang tua, guru dan teman agar ikut serta mengembangkan dan mendukung sikap percaya diri konseli.


Mengetahui,                                                                            Jombang, 25 Juni 2012
Koordinator Guru BK                                                                          Konselor



(.........................................)                                                     (.........................................)

Minggu, 01 Juli 2012

Contoh Daftar Masalah Dalam AUM


001.    Badan terlalu kurus, atau terlalu gemuk
002.    Warna kulit kurang memuaskan
003.    Berat badan terus berkurang, atau bertambah.
004.    Badan terlalu pendek, atau terlalu gemuk.
005.    Secara jasmaniah kurang menarik.
006.    Belum mampu memikirkan dan memilih pekerjaan yang akan dijabat nantinya.
007.    Belum mengetahui bakat diri sendiri untuk jabatan/pekerjaan apa.
008.    Kurang memiliki pengetahuan yang luas tentang lapangan pekerjaan dan seluk beluk jenis-jenis pekerjaan.
009.    Ingin memperoleh bantuan dalam mendapatkan pekerjaan sambilan untuk melatih diri bekerja sambil sekolah.
010.    Khawatir akan pekerjaan yang dijabatnya nanti; jangan-jangan memberikan penghasilan yang tidak mencukupi.
011.    Terpaksa atau ragu-ragu memasuki sekolah ini.
012.    Meragukan kemanfaatan memasuki sekolah ini.
013.    Sukar menyesuaikan diri dengan keadaan sekolah.
014.    Kurang meminati pelajaran atau jurusan atau program yang diikuti.
015.    Khawatir tidak dapat menamatkan sekolah pada waktu yang direncanakan.
016.    Fungsi dan/atau kondisi kesehatan mata kurang baik.
017.    Mengalami gangguan tertentui karena cacat jasmani.
018.    Fungsi dan/atau kondisi kesehatan hidung kurang baik.
019.    Kondisi kesehatan kulit sering terganggu.
020.    Gangguan pada gigi.
021.    Ragu akan kemampuan saya untuk sukses dalam bekerja.
022.    Belum mampu merencanakan masa depan.
023.    Takut akan bayangan masa depan.
024.    Mengalami masalah karena membanding-bandingkan pekerjaan yang layak atau tidak layak untuk dijabat.
025.    Khawatir diperlakukan secara tidak wajar atau tidak adil dalam mencari dan/atau melamar pekerjaaan.
026.    Sering tidak masuk sekolah.
027.    Tugas-tugas pelajaran tidak selesai pada waktunya.
028.    Sukar memahami penjelasan guru sewaktu pelajaran berlangsung.
029.    Mengalami kesulitan dalam membuat catatan pelajaran.
030.    Terpaksa mengikuti mata pelajaran yang tidak disukai.

031.    Fungsi dan/atau kondisi kerongkongan kurang baik atau sering terganggu,misalnya serak.
032.    Gagap dalam berbicara.
033.    Fungsi dan/atau kondisi kesehatan telinga kurang baik.
034.    Kurang mampu berolahraga karena kondisi jasmani yang kurang baik.
035.    Gangguan pada pencernaan makanan.
036.    Kurang yakin terhadap kamampuan pendidikan sekarang ini dalam menyiapkan jabatan tertentu nantinya.
037.    Ragu tentang kesempatan memperoleh pekerjaan sesuai dengan pendidikan yang diikuti sekarang ini.
038.    Ingin mengikuti kegiatan pelajaran dan/atau latihan khusus tertentu yang benar-benar menunjang proses mencari dan melamar pekerjaan setamat pendidikan ini.
039.    Cemas kalau menjadi penganggur setamat pendidikan ini.
040.    Ragu apakah setamat pendidikan ini dapat bekerja secara mandiri.
041.    Gelisah dan/atau melakukan kegiatan tidak menentu sewaktu pelajaran berlangsung, misalnya membuat coret-coretan dalam buku,cenderung mengganggu teman.
042.    Sering malas belajar.
043.    Kurang konsentrasi dalam mengikuti pelajaran.
044.    Khawatir tugas-tugas pelajaran hasilnya kurang memuaskan atau rendah.
045.    Mengalami masalah kerena kemajuan atau hasil belajar hanya diberitahukan pada akhir catur wulan.
046.    Sering pusing dan/atau mudah sakit.
047.    Mengalami gangguan setiap datang bulan.
048.    Secara umum merasa tidak sehat.
049.    Khawatir mengidap penyakit turunan.
050.    Selera makan sering terganggu.
051.    Hasil belajar atau nilai-nilai kurang memuaskan.
052.    Mengalami masalah dalam belajar kelompok.
053.    Kurang berminat dan/atau kurang mampu mempelajari buku pelajaran.
054.    Takut dan/atau kurang mampu berbicara di dalam kelas dan/atau di luar kelas.
055.    Mengalami kesulitan dalam ejaan, tata bahasa dan/atau perbendaharaan kata dalam Bahasa Indonesia.
056.    Mengalami masalah dalam menjawab pertanyaan ujian.
057.    Tidak mengetahui dan/atau tidak mampu menerapkan cara-cara belajar yang baik.
058.    Kekurangan waktu untuk belajar.
059.    Mengalami masalah dalam menyusun makalah, laporan atau karya tulis lainnya.
060.    Sukar mendapatkan buku pelajaran yang diperlukan.
061.    Mengidap penyakit kambuhan.
062.    Alergi terhadap makanan atau keadaan tertentu.
063.    Kurang atau susah tidur.
064.    Mengalami gangguan akibat merokok atau minuman atau obat-obatan.
065.    Khawatir tertular penyakit yang diderita orang lain.

animation